Rabu, 02 November 2016

Acara 1 Manual (Praktikum Penginderaan Jauh untuk Pembangunan Wilayah)


ACARA I
PENYEGARAN ANALISIS MEDAN
  1. Tujuan
      Tujuan dari praktikum penyegaran analisis medan untuk latihan penyegaran dalam melakukan analisis medan berdasarkan interpretasi data citra penginderaan jauh. Data citra penginderaan jauh ini yaitu citra Landsat 7 ETM dengan komposit 457. Citra dinterpretasi berdasarkan karakteristik fisiknya seperti bentuklahan sampai ke satuan lahannya, pola aliran, dan pola igir.
    2.  Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam praktikum ini sebagai berikut:
Alat
  • Spidol OHP
  • Alat Tulis
  • Penggaris
Bahan
  • Citra Landsat 7 ETM
  • Tranparansi

   3. Tinjauan Pustakan
Analisis medan melalui penginderaan jauh dapat dilakuakan menggunakan pendekatan geomorfologi. Struktur geomorfologi merupakan studi yang mengkaji tentang bentuklahan sebagai penyusun utama dari permukaan bumi.  Konfigurasi permukaan bumi terbentuk akibat adanya tenaga endogen dan eksogen. Informasi geomorfologi suatu wilayah merupakan salah satu sumber data yang banyak digunakan dalam mengkaji potensi sumberdaya suatu wilayah (Suharsono, 1999). Dalam suatu unit geomorfologi terdapat suatu bentanglahan. Bentanglahan merupakan suatu wilayah yang mempunyai karakteristik tertentu seperti bentuklahan, tanah, vegetasi, dan pengaruh manusia (Vink, 1983 dalam Suharsono, 1997). Bentanglahan mencakup bentukan alami, non alami, dan budaya.  Sangat kompleknya bentanglahan yang ada di permukaan bumi, maka terlebih dahulu harus diklasifikasikan ke dalam unit-unit bentuklahan.
Bentuklahan merupakan karakteristik permukaan lahan sebagai hasil interaksi antara proses fisik dan gerakan kerak bumi dengan geologi lapisan permukaan bumi. Klasifikasi bentuklahan bertujuan menyederhanakan bentang lahan yang kompleks di permukaan bumi menjadi unit-unit sederhana (bentuklahan) yang mempunyai kesamaan dalam sifat dan perwatakannya.  Menurut Strahler (1983), bentuk lahan adalah konfigurasi permukaan lahan yang dihasilkan oleh proses alam. Lebih lanjut Sabin (1984) menyatakan bahwa bentuk lahan merupakan morfologi dan karakteristik permukaan lahan sebagai hasil interaksi antara proses fisik dan gerakan kerak dengan geologi lapisan permukaan bumi. Berdasarkan kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa bentuklahan ialah bagian dari permukaan bumi yang memiliki bentuk topografis khas, akibat pengaruh kuat dari proses alam dan struktur geologis pada material batuan dalam ruang dan waktu kronologis tertentu. Atau dapat juga dikatakan bahwa bentuk lahan merupakan bentukan pada permukaan bumi sebagai hasil perubahan bentuk permukaan bumi oleh proses-proses geomorfologis yang beroperasi di permukaan bumi. Masing-masing bentuk lahan dicirikan oleh adanya perbedaan dalam hal struktur dan proses geomorfologi, relief / topografi, dan material penyusun (litologi). Suharsono (1983) telah mengklasifikasikan bentuklahan berdasarkan genesisnya menjadi sepuluh klas utama, yaitu : bentuklahan asal proses struktural, bentuklahan asal proses vulkanik, bentuklahan asal proses denudasional, bentuklahan asal proses fluvial, bentuklahan asal proses marin, bentuklahan asal proses glasial, bentuklahan asal proses aeolian, bentuklahan asal proses solusional, bentuklahan asal proses organik, dan bentuklahan asal proses antropogenik.
 4. Diagram Alir
Diagram alir dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

 alir
Gambar 1 : Diagram alir penelitian


5. Hasil Praktikum
Hasil dari praktikum penyegaran analisis medan ini adalah sebagai berikut:
  • Peta tentatif satuan medan pada transparansi (terlampir)
  • Peta tentatif satuan medan pada HVS (terlampir)
  • Tabel karakteristik satuan medan.

6. Pembahasan
Penyegaran analisis medan ini bertujuan untuk mengenali karakteristik fisik suatu wilayah. Hal ini karakteristik fisik suatu wilayah sangat berkaitan erat dengan karakteristik budaya/sosial suatu wilayah. Karakteristik fisik suatu wilayah pada dasarnya menjelaskan mengenai kondisi fisik dan daya tampung dari suatu wilayah. Oleh karena itu, peran analisis medan sangat berpengaruh pada kesesuaia, kemampuan, dan daya tampung suatu wilayah berdasarkan karakteristik fisik wilayah nya yang dikaitkan dengan keberadaan kondisi sosial wilayah dalam hal  ini pembangunan suatu wilayah.
Area kajian dalam penelitian ini meliputi sebagian provinsi jawa tengah bagian utara. Analisis medan di daerah ini dikaji dengan menggunakan pendekatan fisik, yaitu dari bentuk lahan, satuan lahan, lereng, relief, kerapatan aliran, kedalaman tanah, dan drainase. Interpretasi citra Landsat 7 ETM+ komposit 432 menghasilkan lima bentuklahan yaitu bentuklahan asal proses vulkanik, asal proses struktural, asal proses denudasional, asal proses fluvial  dan asal proses marin. Satuan lahan dari bentuklahan tersebut kemudian diklasifikasi menurut Prapto Suharsono (1985) dengan menggunakan skala klasifikasi >1: 100.000.
Hasil kasifikasi setiap bentuklahan ini menghasilkan beberapa satuan lahan. Seperti pada bentuklahan denudasional satuan lahan yang ada pada daerah kajian ini yaitu bukit sisa dan pedimen. Setiap bentuk lahan ini memiliki karakteristik fisik. Elevasi bukit sisa >50-200 mdpal, bentuk lereng berbukit, kerapatan alur tergolong sedang, pola igir membulat, drainase permukaan baik, kedalaman tanah sekitas <0,3 m dan  tekstur tanah kira-kira berupa sandy clay loam pada bentuklahan ini memiliki potensi untuk dijadikan sebagai kawasan budidaya seperti tanaman yang tidak terlalu membutuhkan unsur hara tinggi, biasanya penggunaan lahan di bentuk lahan ini berupa tegalan.
Lereng atas gunung api pada dasarnya memiliki pola igir yang meruncing, dengan pola aliran radial, dengan kerapatan alurnya tergolong tinggi, berada pada elevasi sekitar 200-500 mdapl, sudut kemiringan lereng sekitar (>20-55 %). Dengan elevasi dan kemiringan lereng tersebut bentuklahan ini memiliki drainse permukaan yang baik. Hal ini dikarenakan daerah ini tidak pernah tergenang. Biasanya bentuklahan ini pada dasarnya dijadikan sebagai kawasan lindung. Dari karakteristik fisik ini maka untuk menjaga keselarasan dan keseimbangan lingkungan di bagian bawahnya maka pembangunan industri sangat tidak direkomendasikan di satuan lahan ini. Hal ini dapat berdampak buruk pada ekosistem yang ada seperti ekosistem dalam hutan, dan ekosistem dalam air.
Dataran aluvial yang ada di bagian utara area kajian ini memiliki tektur tanah lempung bergeluh. Hal ini dikarenakan pada bagian utara area kajian secara geomorfik merupaka area lipatan, sehingga area lipatan biasanya didominasi oleh tekstur lempung. Dataran aluvial secara karakteristik fisiknya biasanya digunakan sebagai kawasan budidaya.  Satuan lahan untuk rataan pasang surut biasanya memilikki tekstur tanah debu geluh lempungan. Daera rataan pasang surut yang tidak bervegetasi ini pada umumnya digunakan sebagai kawasan budidaya, salah satunya dijadikan sebagai tambak. Seperti pada area kajian di satuan lahan rataan pasang surut yang tidak bervegetasi ini didominasi dengan keberadaan tambak.
Penggunaan dan pembangunan lahan pada dasarnya disesuaikan dengan karaktersitik fisik suatu hal lahan, hal ini akan berdampak positif pada daya tampung daerah tersebut. Oleh karena itu pembangunan sutau wilayah terlebih dahulu menganalisis medan untuk melihat daya tampung dari medan itu sendiri agar tercipta lingkungan yang berkesinambungan dan dapat menjaga kelestarian habitat pada suatu ekosistem tertentu.
7. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah  penyegaran analisis medan sangat diperlukan dalam kajian untuk mengetahui karakteristik fisik seperti pola aliran, kedalaman tanah, drainase permukaan, lereng,dan elevasi suatu lahan, serta dapat dikaitkan dengan daya tampung lahan itu sendiri sehingga analisis ini akan lebih memudahkan dalam penentuan kebijakan untuk pembangunan suatu wilayah.

Daftar Pustaka
Sutanto, 1999, Penginderaan Jauh Jilid 1. Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sutanto, 1999, Penginderaan Jauh Jilid 2. Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Suharsono, P. 1999. Identifikasi Bentuklahan dan Interpretasi Citra Untuk Geomorfologi. Yogyakarta: PUSPICS Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.
Sabins, F.F. 1987. Remote Sensing Principles and Interpretation. United States of America: Waveland Press, Inc.

LAMPIRAN
lamppiran-1lampiran-2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar